Memilih Template Blog Yang Baik
Memilih Template Blog Yang Baik Dalam pembuatan blog, template merupakan salah satu unsur penting yang tidak bisa disepelekan, karena sebuah template sangat berpengaruh pada tampilan blog itu sendiri. Template merupakan hal utama dan paling pokok, karena dari sebuah template tersebut merupakan dasar dari posisi dan item content maupun widget yang akan kita pasang. Berikut saya akan share
Perkenalan Blog rachmadshare
Assalamu' alaikum wr. wb. Hari ini jum'at 18 Mei 2012, pertama kalinya rachmad mulai posting diblog yang sederhana ini, ini adalah blog personal rachmad yang mana lewat blog rachmadshare ini rachmad akan berbagi hal-hal baru tentang perjalanan hidup rachmad. Sebelumnya perkenalkan nama saya adalah Rachmad P, bocah berusia 20 tahun yang mulai tergila-gila akan internet terutama blog.
OPTIMASI BLOG WILWATIKTA MADANI
Berbicara perihal Optimasi Blog Wilwatikta Madani ini sebenarnya telah keluar jalur thema blog Wilwatikta Madani ini sendiri. Tetapi saya merasa harus menuliskan hal ini bertolak pangkal dari kesedihan saya melihat posisi Alexa-rank blog Wilwatikta Madani ini yang sejak dibentuknya hingga saat artikel ini dimunculkan masih juga belum beranjak dari angka 0 (nol).Setelah saya selidiki secara mendalam (tentu saja secara obyektif), kemudian mencari solusi dan referensi ke sana kemari, akhirnya saya sampai kepada suatu kesimpulan bahwa blog Wilwatikta Madani ini perlu dan harus dilakukan serentetan program optimalisasi blog, tujuannya adalah untuk memperbaiki posisi Alexa rank sekaligus mampu bersaing di jajaran 10 besar SERP.
Setelah mempelajari, mengamati sekaligus mencobanya dalam beberapa dummy-blog yang telah dibuat, maka diperoleh kesimpulan bahwa optimasi blog tidak dapat dilepaskan dari yang namanya SEO (search engine optimization) yang secara harafiah dapat diartikan sebagai suatu rangkaian usaha optimasi blog dengan tujuan memperbaiki perankingan Google maupun Alexa rank, yang pada akhirnya dapat mendatangkan kunjungan (visitor) demi perkembangan blog ke depannya.
Masalah SEO blog itu sendiri secara garis besar dibedakan ke dalam dua kategori besar yaitu SEO On-Page (optimalisasi blog) dan apa yang disebut dengan SEO Off-Page (berkaitan dengan urusan backlink). Selanjutnya sebagai langkah awal, saya memutuskan untuk menempuh langkah optimasi blog (SEO On-Page) terlebih dahulu, hal ini berkaitan dengan upaya untuk menaikkan peringkat Alexa-rank serta Google indexing terlebih dahulu. Perkara SEO On-Page ini termasuk ke dalam suatu usaha optimasi yang tidak mudah untuk dilaksanakan, banyak hal yang harus dilakukan, menuntut kesabaran serta ketelitian yang cukup mendalam.
Selanjutnya secara perlahan namun pasti saya upayakan secara sistematis, bertahap dan berkesinambungan untuk melaksanakan SEO On-Page tadi dengan menempuh langkah-langkah awal yang berupa :
- Memasang Meta-Tag SEO Friendly (termasuk Google meta-tag), yang bertujuan agar blog Wilwatikta Madani ini lebih bersifat SEO Friendly artinya adalah supaya blog Wilwatikta Madani ini lebih mudah dikenali oleh Google search engine yang merupakan raja search engine dunia. Tentang bagaimana SEO Friendly yang saya pergunakan, nantinya akan dibahas dalam artikel tersendiri untuk itu.
- Langkah kedua yang saya tempuh dalam hal ini adalah memasang Navigasi Breadcumb yang bertujuan untuk membantu memberikan arahan (navigasi) kepada robot search engine saat ia melakukan penelusuran konten (isi) blog Wilwatikta Madani ini. Ini saya lakukan dengan pemikiran bahwa robot search engine seperti juga manusia, saat ia masuk ke blog Wilwatikta Madani ini, ia seperti masuk ke dalam suatu kawasan hutan yang lebat, sehingga agar ia bisa selamat, maka diperlukan seorang guide (penunjuk arah) yang dalam hal ini diperankan oleh sebuah Navigasi Breadcumb. Mengenai Navigasi Breadcumb ini, apa dan bagaimana berntuknya, serta bagaimana membuatnya, akan diuraikan dalam artikel tersendiri.
- Langkah ketiga yang saya lakukan adalah dengan memasang script Permalink SEO pada blog Wilwatikta Madani ini. Fungsi dari pada script ini adalah untuk memasang serta menambah permanen link pada blog Wilwatikta Madani ini, yang pada akhirnya bertujuan untuk membantu perkuatan internal-link blog ini. Mengenai cara pembuatannya, nanti akan dibahas pada artikel tersendiri.
- Langkah keempat dan saya anggap paling penting adalah membuang semua script backlink gratisan, hal ini saya lakukan karena sebagian besar backlink gratisan tersebut menyebabkan "error 404 not found" saat saya melakukan check backlink. Dalam kacamata saya error 404 ini nantinya akan mempengaruhi proses indexing yang dilakukan oleh robot Google search engine.
- Langkah kelima adalah dengan memasang navigasi halaman, hal ini saya lakukan untuk mengantisipasi Google pagerank yang saat ini menerapkan page-rank per halaman blog. Pemasangan navigasi halaman ini adalah untuk mempermudah saya mendeteksi halaman-halaman mana yang sering mendapat kunjungan serta halaman-halaman mana yang tidak pernah dikunjungi sama sekali.
Satu hal terpenting yang telah saya lakukan pertama-tama sebelum memulai kelima langkah tersebut di atas adalah dengan melengkapi atau memasang Alexa Toolbar pada browser Firefox saya, hal ini saya rasakan cukup banyak membantu utamanya untuk melakukan pendeteksian page-rank per halaman blog yang ada dalam blog Wilwatikta Madani ini.
Sekian dulu ulasan yang pertama ini, artikel ini tidak bermaksud menggurui siapapun, tetapi murni berdasarkan pengalaman pribadi saya. Terus terang, dalam hal ini saya tetap menyadari bahwa semua upaya tersebut di atas tidak akan mungkin akan berhasil dalam waktu singkat, tetapi minimal saya telah berusaha untuk melakukan sebuah langkah optimasi blog.
SITUS CANDI MINAK-JINGGO
Majapahit perlu dijelaskan agar tidak diombang-ambingkan, Majapahit perlu diluruskan agar tidak dibelak-belokkan.Tersebutlah situs Candi Minak Jinggo (sebutan masyarakat setempat), terletak di Desa Ungah-unggahan, Trowulan, sebelah Timur kolam Segaran, yang saat ini hanya tinggal reruntuhan candi yang terbuat dari bahan batu andesit, sebuah bahan bangunan candi yang tidak lazim dipergunakan pada candi-candi di kawasan Trowulan, yang sebagian besar mempergunakan bahan dasar batu bata merah.
Dari lokasi reruntuhan candi ini telah ditemukan sebuah arca Garudha, namun oleh masyarakat setempat dan berita-berita tradisi disebutkan sebagai arca Menak-Jinggo. Ditilik dari motif dan model ragam hias pada relief-relief candi yang masih tersisa, terlihat jelas bahwa candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit.
Arca Garudha yang diyakini sebagai arca Menak-Jinggo
Arca Garudha yang diyakini sebagai arca Menak-Jinggo
Pada tahun 1977, pernah dilakukan upaya penggalian percobaan dan dilanjutkan sejak tahun 2007 yang diasumsikan memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat menyelesaikannya.
Berikut ini adalah sktesa candi Minak-Jinggo pada awal ditemukannya.
Ditilik dari keterangan sketsa tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa candi ini merupakan Candi Hindu yang berasal dari masa Majapahit.
Puing-puing reruntuhan Candi Minak-Jonggo
Relief paseban pada jaman Majapahit
Sekian, terima kasih.
GIRINDRAWARDHANA BUKAN RADEN PATAH
Sejarah Majapahit dibelak-belokkan, sejarah Majapahit dipelintir ke sana ke mari, sejarah Majapahit sengaja dikaburkan.Adalah sebuah buku yang berjudul "Meluruskan Sejarah Majapahit" yang ditulis oleh Irawan Djoko Nugroho, salah satunya menyebutkan bahwa : "Raden Patah diidentifikasi sebagai orang yang sama dengan Girindrawardhana". Tulisan ini akan membahas kebenaran pernyataan tersebut yang diragukan kebenarannya. Baiklah kita tinjau tulisan beberapa prasasti Majapahit berikut ini :
Prasasti Padukuhan Duku bertuliskan tentang sang Prabu Girindrawardhana dan juga nama kecilnya,yaitu; Dyah Ranawijaya mengesahkan pemberian tanah perdikan Terialokiapuri di desa Petak, kepada Sri Brahmanaraja Ganggadara oleh dua orang Prabu terdahulu (sebelum masa Girindrawardhana berkuasa). Tidak disebutkan nama kedua raja tersebut.
Maksud dari pengesahan/penguatan dari pemberian tanah tersebut, karena bantuan yang telah di berikan kepada Prabu Girindrawardhana saat menyerang Majapahit (Bhre Kertabhumi).
Bantuan pada waktu peperangan melawan Majapahit ini berarti sekali dalam pemberian tanah perdikan tersebut, sehingga disertai pemberian lencana-negara yang berbentuk; dua telapak kaki, payung, tongkat di belit ular, kembang, kendi dan keris.
Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda menyebutkan bahwa raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di dalam Purwaka Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah, pendiri dan sultan pertama Demak, adalah anak prabu Brawijaya Kertabhumi (" ...... tumuli hana pwa ya sang Patah ika anak ira Sang Prabhu Brawijaya Kretabhumi kang rumuhun mastri lawan putri Cina .....", Atja, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, 1972, hal. 84 ; lihat pula : P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, 1972, hal. 19). Kesimpulannya adalah bahwa Raden Patah adalah putera dari raja Majapahit Bhre Kertabhumi.
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M, telah diketahui adanya upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhattara ring Dahanapura yang diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana (Lihat : Martha A. Muusses, "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214 ; P.J. Zoetmulder, "Djaman Empu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI seksi D, 1965, hal. 207). Dengan demikian Girindrawardhana adalah putera dari Bhre Pandan Salas.
Adapun Bhre Pandan Salas ini pada tahun 1468 M tersingkir dari kedaton Majapahit akibat serangan atau perebutan kekuasaan dari Bhre Kertabhumi. Akhirnya perebutan kekuasaan ini dibalas oleh Dyah Ranawijaya (putera dari Bhre Pandan Salas) pada tahun 1478 M, dan mengakibatkan Bhre Kertabhumi gugur di kedaton.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwasanya Raden Patah dan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) adalah dua orang yang berbeda, Raden Patah adalah putera Bhre Kertabhumi, sedangkan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) adalah putera dari Bhre Pandan Salas. Fakta lain lagi Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak, sedangkan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) melanjutkan pemerintahan ayahnya sebagai raja Majapahit.
MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1)
"Meluruskan Sejarah Majapahit" adalah sebuah buku tulisan Irawan Djoko Nugroho, infonya dapat di lihat di sini : http://www.facebook.com/topic.php?uid=78845515468&topic=12527 (facebook) dan di sini : http://catalogue.nla.gov.au/Record/4767070 (katalog buku). Sang penulis mengaku alumnus Universitas Gajah Mada, Jogyakarta jurusan/fakultas Filologi. Beberapa hal yang tertulis di dalam buku karangan beliau (Meluruskan Sejarah Majapahit) adalah tidak benar alias salah kaprah. Alih-alih 'meluruskan sejarah Majapahit' tetapi pada faktanya malah "Membelokkan Sejarah Majapahit". Artikel atau tulisan ini akan membahas pembelokan-pembelokan tersebut secara bersambung atau berkelanjutan.
Pembelokan pertama disebutkan bahwa Gajah Mada (sebagai mahapatih Majapahit) ternyata ada dua orang, yang pertama hidup pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi/Hayam Wuruk dan yang kedua hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V. Selanjutnya dikatakan bahwa Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara adalah Gajah Mada yang ke-2, yang hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V.
Landasan atau dasar yang dipergunakan memperkuan alibi atau pernyataannya adalah :
- Babad Tanah Jawi
- Babad Demak I
- Hikayat Hang Tuah
- Hikayat Raja-raja Pasai
- Prasasti Wijaya Parakrama-Wardhana tahun 1447 M.
Berita-berita tradisi yang berupa babad atau hikayat pada dasarnya merupakan sumber sejarah yang lemah kedudukannya dalam artian tidak dapat dipergunakan sebagai acuan dasar untuk menuliskan sejarah suatu bangsa, apalagi untuk menuliskan sejarah berdirinya atau kelangsungan hidup suatu kerajaan dalam hal ini kerajaan Majapahit. Banyak uraian babad-babad atau hikayat yang bertentangan dengan isi suatu prasasti (yang merupakan sumber otentik).
Baiklah kita tinjau uraian Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia II, terbitan Balai Pustaka tahun 1993, pada halaman 448 disebutkan hal yang demikian :
"Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M). Saat keruntuhan itu disimpulkan dalam candrasengkala sirna-ilang-kertining-bumi (Serat kanda dan Babad ing sengkala -penulis-) dan disebutkan pula bahwa keruntuhannya itu disebabkan karena serangan dari kerajaan Islam Demak. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang sampai kepada kita (penulis buku -penulis-) ternyata bahwa pada saat itu kerajaan Majapahit belum runtuh dan masih berdiri untuk beberapa waktu yang cukup lama lagi. Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1486 M masih menyebut adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Rajanya yang berkuasa pada waktu itu bernama Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawarddhana, bahkan ia disebutkan pula sebagai seorang Sri Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha"
Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita tarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya berita-berita tradisi (dalam bentuk babad ataupun hikayat) adalah sangat-sangat lemah kedudukannya bilamana akan dipergunakan sebagai sumber untuk menuliskan suatu sejarah. Sumber utama yang terpenting adalah prasasti-prasasti, baru kemudian catatan perjalanan saksi-saksi sejarah. Selanjutnya berita-berita tradisi hanya bersifat pelengkap.
Dengan demikian sumber-sumber tulisan Irawan Djoko Nugroho (Meluruskan Sejarah Majapahit) yang berbentuk babad dan atau hikayat (Babad Tanah Jawi, Babad Demak I, Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Raja-Raja Pasai) sangat-sangat lemah kedudukannya, dalam artian tidak dapat dipergunakan sebagai sumber untuk menuliskan sejarah.
Selanjutnya, bila kita tinjau prasasti Wijaya-Parakrama-Wardhana tahun 1447 M, tidak pernah disebutkan nama Gajah Mada sebagai patih Brawijaya V, yang ada adalah nama Gajah Geger. Nama 'Gajah Geger' ini oleh penulis buku (Irawan Djoko Nugroho) diasumsikan sebagai Gajah Mada berdasarkan pendefinisian kata Geger yang berarti 'hiruk-pikuk'. Demikian juga definisi kata Mada yang berarti 'hiruk-pikuk'. Berdasarkan kesamaan arti kata Geger dan Mada inilah kemudian dia/beliau menyamakan Gajah Geger dengan Gajah Mada. Hal ini adalah merupakan suatu kesalahan besar sekali lagi saya katakan, SALAH BESAR.
Kata Mada dalam nama Gajah Mada pada dasarnya adalah melukiskan sebuah tempat kelahiran yang bersangkutan, artinya Gajah Mada adalah orang besar yang berasal dari desa Mada. Jadi bukan 'orang besar hiruk pikuk', demikian pula kiranya nama Gajah Geger hendaknya dianalogikan sebagai orang besar yang berasal dari daerah Geger.
Kesimpulannya : Kata geger dalam nama Gajah Geger, tidak dapat diartikan sebagai Gajah Mada, sehingga memunculkan asumsi bahwa Gajah Mada ada dua orang. Ini merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa dan sangat terkesan mengada-ada yang dalam bahasa Jawanya, utak-atik-gathuk.
Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH
Bersambung ...............
MANA YANG ASLI ?
Majapahit menyimpan banyak misteri, Majapahit mengundang decak kagum, Majapahit mengundang perdebatan, Majapahit menyisakan tanda tanya besar.
Ada beberapa mahkota yang disebut-sebut sebagai peninggalan kerajaan Majapahit, salah satunya adalah yang dipegang dan dimiliki oleh Brahmaraja XI yang telah menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit-Bali.
Foto Mahkota yang dipegang oleh Brahmaraja XI
Coba kita perhatikan dengan seksama, mahkota tersebut hanya bermotifkan bunga-bunga kontemporer dan sama sekali tidak mencirikan motif atau ragam hias Majapahit, atau paling tidak menunjukkan kepada kita bahwa mahkota tersebut memang patut kita anggap berasal dari Majapahit.
Pertanyaan yang muncul : " Manakah mahkota yang asli Majapahit ?".
Langganan:
Postingan (Atom)






